Kamis, 29 September 2011

reproduksi dan perkembangan embrio


 

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN II
”REPRODUKSI DAN PERKEMBANGAN EMBRIO”


Dosen Pembimbing :
Kholifah Kholil, M.Si

Disusun Oleh :
Novia Qurrota Ayun
08620029






JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2010


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Biologi perkembangan ialah studi proses pertumbuhan dan perkembangan organisme. Biologi perkembangan modern mempelajari kontrol genetik pertumbuhan sel, diferensiasi sel dan morfogenesis, yang merupakan proses yang menimbulkan jaringan, organ dan anatomi. Embriologi merupakan subbidang, studi organisme antara tahap 1 sel (umumnya, zigot) dan akhir tahap embrio, yang tak perlu awal kehidupan bebas. Embriologi awalnya merupakan ilmu yang lebih deskriptif sampai abad ke-20. Embriologi dan biologi pengembangan kini menghadapi bermacam-macam langkah yang diperlukan untuk pembentukan badan organisme hidup yang benar dan sempurna (Wahyu, 1990).
Pada saat kopulasi antara pria dan wanita (coitus) dengan ejakulasi, sperma dari saluran reproduksi pria didalam vagina wanita, akan dilepaskan cairan mani berisi sel sperma ke dalam saluran reproduksi wanita. Jika senggama terjadi pada masa ovulasi (masa subur wanita), maka kemungkinan sperma akan bertemu dengan ovum yang disebut sebagai pembuahan atau fertilisasi. Proses pembuahan ini terjadi didalam tuba fallopi, umumnya didaerah ampula/infundibulum (Guyton,2006).
Semua itu tidak akan kita ketahui dengan jelas tanpa adanya penelitian lebih lanjut, oleh karena itu pada praktikum kali ini kami mrngambil judul tentang “Reproduksi Dan Perkembangan Embrio”.

1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari praktikum ini yaitu:
1.      Bagaimana cara mengawinkan dan memelihara mencit?
2.      Bagaimana perkembangan embrio secara morfologi selama periode kehamilan?

1.3  Tujuan
Tujuan dari praktikum ini yaitu:
1.      Untuk mempelajari cara mengawinkan dan memelihara mencit?
2.      Untuk mempelajari perkembangan embrio secara morfologi selama periode kehamilan?

BAB II
DASAR TEORI

2.1  Kajian Pustaka
2.1.1 Perkembangan embrio mammalia
A. Pembuahan
Pada saat kopulasi antara pria dan wanita (coitus) dengan ejakulasi, sperma dari saluran reproduksi pria didalam vagina wanita, akan dilepaskan cairan mani berisi sel sperma ke dalam saluran reproduksi wanita. Jika senggama terjadi pada masa ovulasi (masa subur wanita), maka kemungkinan sperma akan bertemu dengan ovum yang disebut sebagai pembuahan atau fertilisasi. Proses pembuahan ini terjadi didalam tuba fallopi, umumnya didaerah ampula/infundibulum. Ovum yang dilepaskan saat ovulasi dikelilingi oleh zona pelusida yang diluarnya ada sel yang membentuk corona radiata. Setelah terjadi pembuahan, zona pelusida mengalami perubahan sehingga tidak dapat ditembus oleh sperma yang lain. Setelah sperma mencapai oosit terjadi (Guyton, 2006) :
1.      reaksi zona atau reaksi kortikal pada selaput zona pelusida
2.      oosit menyelesaikan pembelahan keduanya sehingga menghasilkan oosit definitive yang kemudian menjadi pronukleus wanita.
3.      inti sel sperma membesar membentuk pronukleus pria
4.      ekor sperma lepas dan bergenerasi
5.      pronukleus pria dan wanita yang haploid membentuk zygote yang diploid
Selama setiap siklus menstruasi normal, satu sel telur (ovum) biasanya dilepaskan dari salah satu indung telur, sekitar 14 hari sebelum periode menstruasi berikutnya. Lepasnya sel telur disebut ovulasi. Sel telur tersapu ke dalam ujung yang berbentuk corong pada salah satu tuba falopii (Munasik, 2004).
Pada ovulasi, lendir di dalam servik menjadi lebih cair dan lebih elastis, membiarkan sperma untuk masuk ke dalam rahim dengan cepat. Dalam 5 menit, sperma bisa bergerak dari vagina, melalui servik ke dalam rahim, dan menuju ujung yang berbentuk corong pada tuba falopii-tempat biasa pembuahan. Lapisan sel tuba falopii memudahkan pembuahan (Sherwood, 2007).
Jika sperma menembus sel telur, pembuahan terjadi. Silia seperti rambut yang kecil melapisi tuba falopii mendorong sel yang telah dibuahi (zigot) melalui pipa ke arah rahim. Sel pada zigot membelah berulangkali bersamaan dengan zigot bergerak menuju tuba falopi. Zigot tersebut memasuki rahim dalam 3 sampai 5 hari. Di dalam rahim, sel terus membelah, menjadi bola berongga yang disebut blastosit. Jika pembuahan tidak terjadi, sel telur luruh dan terus melewati rahim dengan periode menstruasi berikutnya (Wahyu, 1990).
Jika lebih dari satu sel telur yang dilepaskan dan dibuahi, kehamilan meliputi lebih dari satu janin, biasanya dua (kembar). Beberapa kembar adalah fraternal. Mengidentifikasikan kembar ketika satu sel telur memisah ke dalam dua embrio setelah membelah (Wahyu, 1990).

B. Pembelahan / Perkembangan Awal Embrio
Setelah terbentuk zigot, maka beberapa jam kemudian terjadi pembelahan zigot sehingga terbentuk dua blastomer. Dalam tiga hari selama perjalanan ke tuba, akan terbentuk sekelompok blastomer yang sama besar sehingga, hasil konsepsi berada dalam stadium morula. Setelah sampai di stadium Morula, terjadi akumulasi cairan sehingga terjadi blastula yang akhirnya terbentuk blastokista. Sekumpulan sel yang ada didalam blastokista disebut massa sel dalam (Inter cell mass). Blastokista diluarnya dikelilingi oleh sel-sel yang lebih kecil yang disebut trofoblas (Trophoblast) yang mempunyai kemampuan menerobos kedalam endometrium (Tenzer, 2003).

C. Implantasi / Nidasi
Kontak antara zigot stadium Blastokista dengan dinding rahim akan menimbulkan berbagai reasi seluler sehingga sel trofoblas tersebut dapat menempel dan mengadakan infiltrasi pada lapisan epitel endometrium uterus. Tahap ini disebut sebagai implantasi / nidasi yang terjadi kurang lebih enam hari setelah konsepsi. Apabila sudah terjadi implantasi / nidasi maka baru dikatakan terjadi kehamilan. Pada hari ke empat, inti blastokista telah sampai pada permukaan stoma endometrium. Pada hari ke enam, blastokista mulai masuk kedalam stoma endometrium dan pada hari ke sepuluh, blastokista telah terbenam seluruhnya ke dalam stroma endometrium, sehingga tahap implantasi / nidasi berakhir (Toelihere, 1981).
Selaput janin terdiri atas korion, amnion, kantung kuning telur, alantois. Bagian korion fili tetap berkembang yang kelak akan menjadi plasenta. Plasenta, selain terdiri dari komponen janin juga tyerdiri dari komponen maternal yang disebut desidua (desidua basalis). Desidua dibagi menjadi dua daerah, yaitu (Bachtiar, 2003):
1. desidua basalis, terletak diantara hasil konsepsi dengan dinding uterus
2. desidua capsularis, terletak diantara hasil konsepsi dengan cavum uteri
3. desidua parietalis/Vera, terletak meliputi/mengelilingi dinding uterus yang lain.

D. Plasentasi
Pada ± minggu ke 16 seluruh kantong rahim telah ditutupi oleh vili korialis. Setelah kantung membesar, vili diseberang janin (daerah desidua capsularis) terjepit, mengalami degenerasi, sehingga menjadi halus (korion halus). Vili di desidua basalis berkembang dengan cepat membentuk plasenta (Plasenta Pars Fetalis). Fungsi plasenta (Scanlon, 2003):
1.      nutritive, alat yang menyalurkan makanan dari ibu ke janin
2.      ekskresi, alat yang menyalurkan hasil metabolisme dari janin ke ibu.
3.      respirasi, menyalurkan O2 dari ibu ke janin dan sebaliknya, menyalurkan CO2 dari janin ke ibu.
4.      alat pembentuk hormone (Endokrin)
5.      alat penyalur antibody dari ibu ke janin (Imunologi)
6.      Farmakologi, menyalurkan obat yang dibutuhkan janin, dari sang ibu.
Plasenta dihubungkan dengan umbilikulus janin melalui tali pusar (Umbilical Cord) yang mengandung dua arteri umbilikalis dan satu vena umbilikalis. Mesoblast antara ruang amnion danm embrio menjadi padat disebut body stalk, menghubungkan embrio dengan dinding trofoblast yang kelak menjadi tali pusat (Santoso, 2006).




Perkembangan Pada Janin dan Plasenta
Pada akhir minggu ke-8 setelah pembuahan (10 minggu pada kehamilan), embrio disebut janin. Selama tahap ini. Struktur yang telah terbentuk bertumbuh dan terbentuk. Berikut adalah tanda-tanda selama kehamilan (Sherwood, 2007):
1)      12 minggu kehamilan     : Janin memenuhi seluruh rahim.
2)      Sekitar 14 minggu                      : Jenis kelamin bisa dikeali.
3)      Sekitar 16 sampai 20 minggu : bisanya, wanita hamil bisa merasakan pergerakan janin. Wanita yang pernah melahirkan sebelumnya biasanya merasakan pergerakan sekitar 2 minggu pertama dibandingkan wanita yang hamil untuk pertama kali.
4)      Sekitar 24 minggu : janin mempunyai kesempatan bertahan hidup di luar rahim.
Paru-paru terus matang sampai mendekati waktu melahirkan. Otak menyimpan sel melalui kehamilan dan tahun pertama kehidupan setelah lahir. Selama plasenta terbentuk, hal itu memperluas proyeksi seperti rambut yang kecil (villi) di dalam dinding rahim. Proyeksi tersebut bercabang dan bercabang kembali di dalam susunan seperti pohon yang rumit. Susunan ini sangat memperluas daerah kontak di antara dinding rahim dan plasenta, sehingga lebih banyak nutrisi dan bahan-bahan beracun yang bisa dirubah. Plasenta terbentuk sempurna dalam 18 sampai 20 minggu tetapi terus bertumbuh melalui kehamilan. Ketika melahirkan, beratnya sekitar 1 pon (Scanlon, 2003).
Gambar 1.1 plasenta dan embrio pada usia 8 minggu (Adandu, 2009)

Pada 8 minggu kehamilan, plasenta dan janin telah terbentuk untuk 6 minggu. Plasenta membentuk proyeksi seperti rambut kecil (villi) yang meluas ke dalam dinding rahim. Pembuluh darah dari embrio, yang melalui tali pusat ke plasenta, terbentuk di dalam villi. Selaput tipis memisahkan darah embrio di dalam villi dari darah si ibu yang mengalir melalui ruang yang mengelilingi villi (ruang intervillous). Susunan ini membuat bahan-bahan dirubah antara darah ibu dan embrio tersebut. Hal ini juga menjaga sistem kekebalan tubuh ibu menyerang embrio karena antibodi ibu terlalu besar untuk melewati selaput tersebut (Bachtiar, 2003).
Embrio mengapung di dalam cairan (cairan amniotic), yang berisi cairan di dalam kantung (kantung amniotic). Cairan amniotic menyediakan ruang di mana embrio bisa bertumbuh dengan bebas. Cairan tersebut juga membantu melindungi embrio dari luka. Kantung amniotic kuat dan berpegas (Munasik, 2004).

E. Cairan Amnion
Rongga yang diliputi selaput janin disebut sebagai rongga amnion. Didalam ruang ini terdapat cairan amnion (Liquor Amnii). Volume cairan amnion (air ketuban) pada kehamilan berkisar antara 1000 – 1500 ml. Cairan amnion berasal dari sekresi oleh dindinmg selaput amnion/plasenta, kemudian setelah system urinorius janin terbentuk, urine janin yang diproduksi, juga dikeluarkan kedalam rongga amnion (Guyton, 2006).

F. Perkembangan Embrio tingkat lanjut
F.1. perkembangan bulan pertama sampai ke 2
Ada tonjolan di jantung dan bengkak dikepala, karena otak sedang berkembang. Jantung mulai berdetak, dan dapat dilihat detakannya pada suatu alat ultra sonic scan. Lesung pipit pada sisi kepala akan menjadi telinga. Dan terjadi pengentalan yang nantinya akan membentuk mata. Pada bagian atas badan akan terjadi pembengkakan yang akan membentuk tulang dan otot. Dan bengkak kecil menunjukan lengan dan kaki mulai tumbuh (Scanlon, 2003).
F.2. Perkembangan Embrio Bulan Ke 3
Pada tahap ini, bagian muka pelan-pelan mulai terbentuk. Mata terlihat lebih jelas dan mempunyai beberapa warna. Juga telah terbentuk mulut dengan lidah. Pada tahap ini calon tangan dan kaki mulai terlihat menonjol pada sisi lateral corpus dan distal. Selanjutnya akan terlihat garis-garis bakal terbentuknya jari-jari tangan dan kaki. Juga mulai terbentuk organ-organ dalam utama seperti jantung, otak, paru-paru, hati, ginjal, usus (Scanlon, 2003).
F.3. Perkembangan Embrio Pada Bulan Ke 4
Dua belas minggu setelah proses pembuahan, janin telah terbentuk sepenuhnya. Semua organ badannya, otot, lengan dan tulang telah lengkap. Janin mengalami pertumbuhan yang lebih matang. Saat minggu ke 14, denyut jantung berdetak lebih kencang dan dapat etrdengar menggunakan alat ultrasonic detector. Denyut jantung berdetak sangat cepat sekitar dua kali lebih cepat dari denyut jantung orang dewasa (Scanlon, 2003).
F.4. Perkembangan bulan ke 5-6
Pada masa ini janin tumbuh dengan cepat. Bagian tubuh tumbuh lebih besar sehingga badan dan kepala lebih proporsional. Garis-garis pada kulit jari kini telah terbentuk, sehingga janin memiliki sidik jari sendiri. Pada minggu ke 21 hingga minggu ke 25, anda akan merasakan gerakan janin untuk pertama kali. Pada mulanya akan terasa suatu denyutan atau sedikit peregerakan, dan mungkin terasa seperti gangguan pencernaan. Selanjutnya, anda akan merasakan janin anda menendang (Scanlon, 2003).
F.5. Perkembangan bulan ke 7-8
Janin kini bergerak dengan penuh semangat dan bereaksi terhadap sentu han dan bersuara. Janin juga mempunyai kebiasaan untuk bangun dan tidur. Kebiasaan ini sering berbeda dengan kebiasaan anda. Ketika anda istirahat pada malam hari, janin mulai bangun dan menendang. Pada minggu ke 29, kelopak mata janin terbuka untuk yang pertama kali. Pada minggu ke 30, panjang janin normal Indonesia sekitar 33 cm (Scanlon, 2003).
F.6. Perkembangan bulan ke 9 sampai lahir
Pada minggu ke 35 terjadi proses penyempurnaan kulit, yang sebelumnya berkerut, pada tahap ini lebih lembut dan halus. Pada minggu ke 38, janin pada umumnya terbaring turun, siap untuk proses kelahiran. Kadang-kadang sebelum kelahiran, kepala berpindah masuk ke panggul dan disebut “masuk pintu atas panggul”, namun, terkadang kepala janin belum masuk pintu atas panggul sampai kelahiran dimulai (Scanlon, 2003).

Gambar 1.2 perkembangan embrio tingkat lanjut (Adandu, 2009)

G. Perkembangan Blastosit
Di antara 5 dan 8 hari setelah pembuahan, blastosit menempel pada lapisan rahim, biasanya dekat puncak. Proses ini disebut implantasi, yang selesai dengan 9 atau 10 hari. Dinding blastosit adalah satu sel tebal kecuali di satu area, dimana 3 sampai 4 sel tebal. Bagian dalam sel pada area yang menebal berkembang menjadi embrio, dan bagian luar sel bersembunyi di dalam dinding rahim dan berkembang menjadi plasenta. Plasenta tersebut menghasilkan beberapa hormon yang membantu memelihara kehamilan. Sebagai contoh, plasenta menghasilkan human chorionic gonadotropin, yang mencegah indung telur dari pelepasan sel telur dan merangsang indung telur untuk menghasilkan estrogen dan progesterone secara kontinyu. Plasenta juga membawa oksigen dan nutrisi dari ibu untuk janin dan bahan-bahan beracun dari janin ke ibu (Wahyu, 1990).
Beberapa sel dari plasenta berkembang menjadi lapisan bagian luar pada selaput (chorion) yang mengelilingi embrio. Bagian dalam lapisan pada selaput (amnion) terbentuk sekitar hari ke 10 sampai hari ke 12, membentuk kantung amniotic. Kantung amniotic berisi cairan bening (cairan amniotic) dan menyebar untuk melindungi embrio yang berkembang, yang mengambang di dalamnya (Tenzer, 2003).

H.    Embriogenesis (Perkembangan Embrio)
Tahap berikutnya pada perkembangan embrio, dimana perkembangan di bawah lapisan rahim pada salah satu sisi. Tahap ini ditandai dengan pembentukan organ yang paling dalam dan struktur luar tubuh. Pembentukan organ-organ diawali sekitar 3 minggu setelah pembuahan, ketika embrio memanjang, pertama kali terbentuk manusia. Tidak lama setelah itu, daerah tersebut akan menjadi otak dan syaraf tulang belakang (neural tube) mulai terbentuk. Jantung dan pembuluh darah besar mulai terbentuk sekitar hari ke 16 atau 17. Jantung mulai memompa cairan melalui pembuluh darah pada hari ke-20, dan sel darah merah pertama muncul hari berikutnya. Pembuluh darah terus berkembang di dalam embrio dan plasenta (Toelihere, 1981).
Gambar 1.3 tahapan dari telur menjadi embrio (Adandu, 2009)

Satu kali sebulan, sel telur dilepaskan dari ovarium ke dalam tuba falopii. Setelah berhubungan seks, sperma bergerak dari vagina melalui servik dan rahim menuju tuba falopii, dimana satu sperma membuahi sel telur. Sel telur yang dibuahi (zigot) membelah terus sebagaimana bergerak turun ke tuba falopii menuju rahim. Pertama, zigot menjadi bola keras pada sel. Kemudian menjadi bola berongga pada sel yang disebut blastosit. Di dalam rahim, blastosit tertanam di dinding rahim, yang mana berkembang menjadi embrio menempel pada plasenta dan mengelilingi selaput yang berisi cairan (Scanlon, 2003).
Hampir semua organ terbentuk sempurna sekitar 8 minggu setelah pembuahan (yang sama dengan 10 minggu pada kehamilan). Kecuali otak dan tulang belakang, yang terus matang sepanjang kehamilan. Kebanyakan kerusakan bentuk (kerusakan lahir) terjadi selama periode ketika organ dibentuk. Selama periode ini, embrio lebih peka terhadap efek obat-obatan, radiasi, dan virus. Oleh karena itu, seorang wanita hamil seharusnya tidak diberikan vaksin virus hidup apapun atau menggunakan obat-obatan apapun selama periode ini sampai mereka menganggap penting untuk menjaga kesehatan mereka (Guyton, 2006).
Lapisan sel pertama yang terbentuk adalah blastoderm, yang terdiri dari lapis tunggal sel-sel, yaitu blastomer. Proses terbentuknya blastomer berbeda pada satu jenis binatang dengan jenis yang lainnya, hal ini berhubungan dengan banyaknya bahan kuning telur di dalam telur.  Namun pada sebagian besar serangga, telurnya mempunyai bahan kuning telur yang banyak.  Pada kebanyakan serangga nukleus yang berfungsi dengan sitoplasmanya, berperilaku seperti individu sel dan membelah diri (cleavage) secara mitosis.  Nukleus-nukleus baru yang terjadi bergerak ke daerah tepi telur dan membentuk blastoderm. Selama proses itu berlangsung, tiap nukleus membentuk sel lengkap dengan selaput selnya (Scanlon, 2003).
Sel-sel hasil pembelahan di atas sebagian tetap di bagian kuning telur, atau sebagian yang sudah di tepi kembali ke kuning telur; sel-sel ini disebut vitofag (vitellophages) atau sel-sel kuning telur (yolk cells).  Vetelofag ini berperan dalam pencernaan awal kuning telur, sehingga memudahkan pengasimilasian oleh sel-sel embrio lain. Pada waktu bersamaan terjadinya blastoderm, beberapa sel hasil pembelahan berubah menjadi sel-sel lembaga (germ cells) yang nantinya berkembang menjadi gamet atau sel-sel reproduktif pada tahap larva tua, pupa atau dewasa (Sherwood, 2007).
Setelah pembentukan blastoderm selesai, sel-sel pada satu sisi telur berubah bentuk menjadi kolumnar (columnar) (artinya seperti tiang besar) sepanjang garis tengah-longitodinal telur, ke arah dua sisi dari garis ini sel-sel itu secara berurutan kurang kolumnar, akhirnya bersatu dengan sel-sel blastoderm yang tersisa, yang cenderung menjadi pipih (sequamous).  Daerah yang menebal dari blastoderm terdiri dari sel-sel kolumnar itu adalah pita lembaga (germ band), yang kemudian memanjang dan berkembang menjadi embrio.  Sel-sel lain ikut dalam pembentukan selaput atau membran ekstraembrio.  Pada sebagian besar serangga lipatan pada daerah di luar pita lembaga tumbuh ke arah atas pita lembaga, nantinya bertemu sepanjang garis tengah longitudinal.  Lapis luar dan dalam dari satu lipatan bersatu dengan lapis yang sama dan lipatan lainnya.  Lipatan dalam membentuk amnion (amnion) di sekeliling embrio yang berkembang dan lapis luar membentuk serosa yang mengelilingi kuning telur, ammon dan embrio.  Pada beberapa serangga selaput ekstraembrio terbentuk dari invaginasi (Apterigota) atau involusi embrio (Odonata, beberapa Orthoptera dan Homoptera) (Santoso, 2006).
Pada waktu pembentukan ammnion dan serosa, terjadi juga proses gastrulasi, yang dimulai dengan invaginasi (melekuk ke dalam) bagian bawah (venter) pita lembaga.  Nantinya invaginasi itu mendatar ke arah keluar dan pinggir-pinggir luarnya bertemu dan bersatu membentuk pita longitudinal dari sel-sel (lapis dalam atau mesentoderm) yang dikelilingi oleh lapis luar, disebut ektoderm.  Tipe lain pembentukan lapisan dalam ialah mengendapnya pita longitudinal bawah ke dalam kuning telur, yang kemudian tertumbuhi oleh sel-sel pita lembaga yang tertinggal.  Tipe yang lain lagi, lapisan dalam itu berkembang dari proliferasi pita lembaga.  Kemudian lapisan dalam berkembang menjadi dua pita longitudinal lateral (mesoderm) dan untingan tengah (median strands) dengan massa sel pada ujung anterior dan posterior.  Untingan tengah bagian massa sel di kedua ujungnya akan menjadi endorm (Munasik, 2004).
Pada tahap perkembangan ini -yaitu mulai adanya mesoderm dan endorm -terjadi alur-alur melintang sehingga embrio terbagi-bagi menjadi satu seri ruas-ruas, 20 jumlahnya.  Segmentasi atau peruasan ini adalah proses bertahap (gradual), mulai dari bagian depan dan berlanjut ke belakang.  Pada saat yang sama terjadi juga evaginasi ektoderm, yang membentuk berbagai embelan (appendages) tubuh.  Apabila segementasi embrio itu telah sempurna dan semua dasar-awal (rudiments) dari embelan telah terbentuk, bagian-bagian embrio yang akan membentuk ketiga tagmata tubuh serangga sudah dapat terlihat.  Setelah pembentukan tiga lapis lembaga (germ layers) (endorm, mesoderm, ektoderm), masing-masing berkembang lebih lanjut yang nantinya membentuk berbagai jaringan dan organ-organ.  Proses ini disebut organogenesis. Otot-otot, jantung dan aorta (pembuluh dorsal, jaringan lunak dan organ reproduksi berasal dari perkembangan mesoderm.  Mesenteron adalah endodermal, sedang stomodeum dan proktodeum ektodermal, otak, sistem saraf, sistem trakea dan integumen juga ektodermal (Sherwood, 2007).



2.1.2        Perkembangan embrio unggas
A.    Perkembangan embrio unggas dari hari ke hari
Pengetahuan tentang fertil dan tidaknya telur sangat diperlukan terutama di hatchery. Selain pengetahuan terhadap seleksi fisik telur, kefertilan telur juga perlu diketahui. Seleksi fisik yang dapat dilakukan diantaranya kebersihan telur dari kotoran induknya, retak atau tidaknya telur serta bentuk ukuran telur (normal atau tidak). Namun terlepas dari hal tersebut tidak kalah pentingnya pengetahuan mengenai fertil/infertil telur dilihat dari dalam telurnya yang dapat dibandingkan sebagai berikut (Scanlon, 2003):
Telur infertil: lempengan embrio terakumulasi oleh material putih di tengah.
Telur fertil: lempengan embrio terlihat seperti cincin, pada pusat area berwarna lebih terang seperti rumah embrio.
Berikut ini Perkembangan embrio dari hari ke hari (Bachtiar, 2003):
1.      Hari Pertama.
Asal mula lempengan embrio pada tahap blastodermal. Nampak ada rongga segmentasi yang berada di bawah area pelucida, terdapat pada cincin yang berwarna lebih gelap dari sekitarnya.
2.      Hari kedua.
Nampak jalur pertama pada pusat blastoderm. Diantara extraembrionic annexis nampak membran vitelin yang memiliki peranan utama dalam nutrisi embrio.
3.      Hari ketiga.
Embrio berada di sisi kiri, dikelilingi oleh sistem peredaran darah, membram viteline menyebar di atas permukaan kuning telur. Kepala dan badan dapat dibedakan, demikian juga otak. Nampak juga struktur jantung yang mulai berdenyut.
4.      Hari keempat.
Perkembangan rongga amniotik, yang akan mengelilingi embrio, yang berisi cairan amniotik, berfungsi untuk melindungi embrio dan membolehkan embrio bergerak. Nampak gelembung alantois yang berperan utama dalam penyerapan kalsium, pernapasan dan tempat penyimpanan sisa-sisa.
5.      Hari kelima.
Peningkatan ukuran embrio, embrio membentuk huruf C, kepala bergerak mendekati ekor. Terjadi perkembangan sayap.
6.      Hari keenam.
Membram vetiline terus berkembang dan mengelilingi lebih dari separuh kuning telur. Fissura ada diantara jari pertama, kedua dan ketiga dari anggota badan bagian atas dan antara jari kedua dan ketiga anggota badan bagian bawah. Jari kedua lebih panjang dari jari lain.
7.      Hari ketujuh.
Cairan yang makin mengencer di bagian leher. Nampak jelas memisahkan kepala dengan badannya. Terjadi pembentukan paruh. Otak nampak ada di daerah kepala, yang lebih kecil ukurannya dibanding dengan embrio.
8.      Hari kedelapan.
Membram vetillin menyelimuti (menutupi) hampir seluruh kuning telur. Pigmentasi pada mata mulai nampak. Bagian paruh atas dan bawah mulai terpisah, demikian juga dengan sayap dan kaki. Leher merenggang dan otak telah berada di dalam rongga kepala. Terjadi pembukaan indra pendengar bagian luar.
9.      Hari kesembilan.
Kuku mulai nampak, mulai tumbuh folikel bulu pertama. Alantois mulai berkembang dan meningkatnya pembuluh darah pada vitellus.
10.  Hari kesepuluh.
Lubang hidung masih sempit. Terjadi pertumbuhan kelopak mata, perluasan bagian distal anggota badan. Membran viteline mengelilingi kuning telur dengan sempurna. Folikel bulu mulai menutup bagian bawah anggota badan. Patuk paruh mulai nampak.
11.  Hari kesebelas.
Lubang palpebral memiliki bentuk elips yang cenderung menjadi encer. Alantois mencapai ukuran maksimal, sedangkan vitellus makin menyusut. Embrio sudah nampak seperti anak ayam.
12.  Hari kedua belas.
Folikel bulu mengelilingi bagian luar indera pendengar meatus dan menutupi kelopak mata bagian atas. Kelopak mata bagian bawah menutupi 2/3 atau bahkan ? bagian kornea.


13.  Hari ketiga belas.
Alantois menyusut menjadi membran Chorioalantois. Kuku dan kali mulai nampak jelas.
14.  Hari keempat belas.
Bulu-bulu halus hampir menutupi seluruh tubuh dan berkembang dengan cepat.
15.  Hari kelima belas dan enambelas.
Beberapa morfologi embrio berubah: anak ayam dan bulu halus terus berkembang. Vitellus menyusut cepat, putih telur mulai menghilang. Kepala bergerak ke arah kerabang telur (posisi pipping) di bawah sayap kanan.
16.  Hari ketujuh belas.
Sistem ginjal dari embrio mulai memproduksi urates (garam dari asam urat). Paruh yang berada di bagian bawah sayap kanan, menuju rongga udara (yang ada di dalam telur). Putih telur telah terserap semua.
17.  Hari kedelapan belas.
Permulaan internalisasi vitellin. Terjadi pengurangan cairan amniotik. Pada umur ini dilakukan transfer dari mesin setter (inkubtor) ke mesin hatcher dan juga bisa dilakukan vaksin in ovo.
18.  Hari kesembilan belas.
Penyerapan vitellin secara cepat. Paruh mulai mematuk selaput/membran kerabang bagian dalam dan siap untuk menembusnya. Penyerapan vitelis mulai cepat.
19.  Hari kedua puluh.
Vitelus terserap semua, menutup pusar (umbilicus). Anak ayam menembus selaput kerabang telur bagian dalam dan bernafas pada rongga udara. Pertukaran gas terjadi melalui kerabang telur. Anak ayam siap menetas dan mulai memecah kerabang telur.
20.  Hari kedua puluh satu.
Anak ayam menggunakan sayap sebagai pemandu dan kakinya memutar balik, paruh memecah kerabang dengan cara sirkular. Anak ayam mulai melepaskan diri dari kerabang telur dalam waktu 12 - 18 jam dan membiarkan bulunya menjadi kering.



2.2 Kajian Keislaman
Di dalam al Qur'an Allah menurunkan beberapa ayat tentang perkembangan embrio manusia.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِين ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِين  
الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Al Qur'an, 23:12-14)
Allohu Akbar… Maha Besar Alloh, yang telah menciptakan manusia dengan bentuknya yang sempurna, kemudian Alloh anugerahkan mereka dengan kecerdasan dan otak supaya mereka ini mau berpikir akan ciptaan Alloh. Alloh Ta’ala berfirman :

وَفِيْ الأَرْضِ ءَايَاتٌ لِلْمُوْقِنِيْنَ وَفِيْ أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Adz-Dzaariyat : 20-21)

Al-Imam ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ayat di atas :

“Alloh Ta’ala berfirman menyeru hamba-hamba-Nya untuk bertafakkur (berfikir) dan mengambil i’tibar (pelajaran) : “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin” yang mencakup bumi itu sendiri dan apa-apa yang ada padanya seperti pegunungan, lautan, sungai, pepohonan dan tetumbuhan, yang menunjukkan orang yang memikirkannya dan merenungkan maknanya, akan keagungan pencipta-Nya, kekuasannya-Nya yang maha luas, kebaikan-Nya yang umum mencakup semuanya dan ilmu-Nya yang mencakup zhahir dan bathin. Demikian pula, bahwa di dalam diri seorang hamba itu ada pelajaran, hikmah dan rahmat yang menunjukkan bahwa Alloh itu maha tunggal al-Ahad…” [Taysir Karimir Rahman, tafsir surat adz-Dzariyat, juz 29, hal. 809).

Manusia zaman dahulu tidak mengetahui bahwa mereka mengalami perkembangan di dalam perut (uterus ibnu mereka) hingga akhirnya sains modern menguaknya. Ilustrasi pertama yang diketahui tentang sebuah janin digambar oleh Leonardo Da Vinci pada abad ke-15. Pada abad ke-2 Masehi, Galen menggambarkan Plasenta dan membran fetal di bukunya yang berjudul ‘On the Formation of the Fetus’. Mungkin, karena inilah para dokter pada abad ke-7 M kemungkinan besar telah mengetahui bahwa embrio manusia berkembang di dalam uterus, namun tetap saja tidak mungkin mereka mengetahui bahwa embrio tersebut berkembang secara bertahap, walaupun Aristoteles telah menggambarkan tahap-tahap perkembangan embrio ayam pada abad ke-4 sebelum masehi. Pemahaman bahwa embrio manusia berkembang secara bertahap tidak dibahas dan diilustrasikan sampai abad ke-15.
Baru setelah Mikroskop ditemukan pada abad ke-17 oleh Leueewenhoek, deskripsi tentang embrio ayam dibuat, namun pengetahuan akan perkembangan embriologi manusia tidaklah diketahui secara mendetail melainkan setelah abad ke-20 setelah Streeter (1941) mengembangkan sistem pertama kali tentang tahap perkembangan embrio yang kemudian digantikan oleh sistem yang lebih akurat yang dikemukakan oleh O’Rahilly (1972).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah menjelaskan perkembangan embrio ini secara mendetail 14 abad yang lalu, dimana pada zaman itu mikroskop, USG dan semisalnya belum ditemukan. Alloh Ta’ala berfirman :

يَخْلُقُكُمْ فِيْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْضِ خَلْقٍ فِيْ ظُلُمَاتٍ ثَلاَثٍ

“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (QS az-Zumar : 6)

Syaikh Ibnu Sa’di rahimahullahu menjelaskan penafsiran ayat ini : “yaitu Alloh menciptakan kalian thur ba’da thur (tahap demi tahap bentuknya), dan kalian dalam keadaan dimana tidak ada tangan satu makhlukpun memegang kalian dan mata melihat kalian, dan Dia-lah Alloh yang memelihara kalian di dalam tempat yang sempit tersebut (perut ibu, uterus), “dalam tiga kegelapan” yaitu kegelapan perut [zhulmatul Bathni], kegelapan rahim [zhulmatur rahmi] kemudian kegelapan tembuni/ari-ari [zhulmatu masyimah].



























BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Struktur Perkembangan Hewan II ini di laksanakan pada hari Selasa, 18 Mei 2010 pada jam 15.15 WIB, di Laboratorium Pendidikan Biologi A lantai 1 Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Adapun alat – alat  yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:
3.2.1.1 Perkembangan embrio mamalia (Vetus)
1.   Papan sesi                                                   1 buah
2.   Gunting                                                      1 buah
3.   Pinset                                                          1 buah
4.   seperangkat alat tulis                                  secukupnya
3.2.1.2  Perkembangan embrio unggas
1.      oven                                                          4 buah
2.      thermometer                                              4 buah

3.2.2 Bahan
Adapun bahan – bahan  yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:
3.2.2.1 Perkembangan embrio mammalia (vetus)
1.      vetus kambing                                            1 ekor
2.      kelinci hamil                                               1 ekor
3.      marmot hamil                                              1 ekor
4.      tikus hamil                                                  1 ekor
3.2.2.2  Perkembangan embrio unggas
1.      telur ayam kampung                                  4 buah
2.      telur bebek                                                4 buah
3.      telur angsa                                                 2 buah
4.      telur ayam horn                                         4 buah
3.2  Cara Kerja
Cara kerja dari praktikum ini yaitu:
3.2.1 perkembangan embrio mammalia (vetus)
1.      Dipastikan hewan yang akan diamati dalam keadaan hamil
2.      Disembelih hewan yang akan diamati secara bergantian
3.      Diamati morfologi dari hewan tersebut, setelah diamati morfologi
4.      Dibedah hewan yang akan diamati
5.      Diamati morfologi dari rahim hewan
6.      Dibedah rahim, dan diamati jumlah vetus, morfologi vetus, tipe plasenta, warna cairan amnion, dan fase perkembangan embrionya
7.      Digambar hasilnya

3.2.1 Perkembangan embrio unggas
1.      Dipastikan telur aves dalam keadaan baik atau tidak busuk
2.      Diberi nama dari keempat telur secara bergantian
3.      Diletakkan telur kedalam oven
4.      Diatur suhu pada thermometer
5.      Dibolak-balik telur setiap satu hari sekali selama 21 hari, setelah 21 hari
6.      Diamati morfologi telur (panjang, diameter, berat, keliling)
7.      Dicatat hasilnya
8.      Diamati anatomi (putih telur, kuning telur)
9.      Dicatat hasilnya





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil
4.1.1  Perkembangan embrio mammalia (vetus)
4.1.1.1  Tikus
Hasil pengamatan
Literature


Adandu, 2009

Keterangan:
No.
Panjang badan (cm)
p. kaki depan (cm)
p. kaki blkng (cm)
p. ekor  (cm)
p. telinga (cm)
Organ bagian luar
Tipe plasenta
Cairan amnion
Fase perkembangan
Jmlh vetus
Tipe ovarium
1.
3,5
0,8
1,1
1,2
0,2
Telinga
Hidung
Kaki
Lidah
Jari
Mata
Mulut
discoid
Berwarna putih keruh, dan licin
vetus
11
politoceus



4.1.1.2  Marmut
Hasil pengamatan
Literature


Adandu, 2009

Keterangan:
No.
Panjang badan (cm)
p. kaki depan (cm)
p. kaki blkng (cm)
p. telinga (cm)
Organ bagian luar
Tipe plasenta
Cairan amnion
Fase perkembangan
Jmlh vetus
Tipe ovarium
1.
10
3
4
1,6
Telinga
Hidung
Kaki
gigi
Lidah
Jari
Mata
Mulut
Kumis
anus
discoid
Kuning agak kental
Vetus
3
polytoceus
2.
9
3
4
1,5
Telinga
Hidung
Kaki
gigi
Lidah
Jari
Mata
Mulut
Kumis
Anus
discoid
Kuning agak kental
vetus
3
polytoceus
3.
8
3
4
1,5
Telinga
Hidung
Kaki
gigi
Lidah
Jari
Mata
Mulut
Kumis
anus
discoid
Kuning agak kental
Vetus
3
polytoceus

4.1.1.3  Kambing
Hasil pengamatan
Literature


Adandu, 2009

Keterangan:
No.
Panjang badan (cm)
p. kaki depan (cm)
p. kaki blkng (cm)
p. ekor  (cm)
p. telinga (cm)
Organ bagian luar
Tipe plasenta
Cairan amnion
Fase perkembangan
Jmlh vetus
Tipe ovarium
1.
17,5
7
8
2
2
Telinga
Hidung
Kaki
Lidah
kuku
mata
ekor
mulut
cotiledon
Berwarna kuning seperti urine, agak kental
vetus
1
monotokes


4.1.2  Perkembangan embrio unggas
Hasil pengamatan
Literature

     

Adandu, 2009
           
Keterangan:
No
Suhu
Telur
Panjang
(cm)
Diameter
(cm)
Berat
(g)
Keliling
(cm)
Putih telur
Kuning telur
Ket.
1.
37º
Ayam kampong
Bebek
Angsa
Horn
9,5
6,2
Menetas
5
3, 85
7,3
-
7, 25
35,76
47,49
-
34,80
15,76
14,6
-
14,5
-
-


-
-


-
Bercampur


2.
30º
Ayam kampong
Bebek
Angsa
Horn
4,5
5,5
-
5
6
7,4
-
7,5
36,27
41,28
-
55,61
12
14,8
-
15
+
+

-
+
+

++
t. bercampur
mencampur

t. bercampur
3.
27º
Ayam kampong
Bebek
Angsa
Horn
4,5
-
-
5,3
6, 25
-
-
7, 25
34,30
-
-
54,21
12,5
-
-
14,5
++
-

+
++
-

-
t. bercampur


ada rongga udara, tidak mencampur
4.
25º
Ayam kampong
Bebek
Angsa
Horn
5
5,3
-
5,5
6, 25
7,2
-
7,5
41,79
47,08
-
60,62
12,5
14,4
-
15
++
-

--
+++
-

+
Mencampur
Mencampur

t. bercampur
Keterangan:
+ + +         : sangat kental                                                 - -         : sangat encer
+ +             : kental                                                                        -           : agak encer
+                : agak kental

4.2  Pembahasan
4.2.1  Perkembangan embrio mammalia (vetus)
4.2.1.1  Tikus
Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa pada induk tikus yang sedang hamil ditemukan adanya vetus tikus berjumlah 11 dengan panjang badan 3,5 cm, panjang kaki depan 0,8 cm, panjang kaki belakang 1,1 cm, panjang ekor 1,2 cm. selain itu juga pada morfologi vetus tikus sudah terdapat telinga, hidung, kaki, lidah, jari, mata, dan mulut. Tipe plasenta pada tikus ini yaitu discoid dan terdapat juga cairan amnion yang berwarna putih keruh agak licin dan tipe ovariumnya yaitu polytoceus.
Plasenta dihubungkan dengan umbilikulus janin melalui tali pusar (Umbilical Cord) yang mengandung dua arteri umbilikalis dan satu vena umbilikalis. Mesoblast antara ruang amnion danm embrio menjadi padat disebut body stalk, menghubungkan embrio dengan dinding trofoblast yang kelak menjadi tali pusat (Santoso, 2006).

Embrio mengapung di dalam cairan (cairan amniotic), yang berisi cairan di dalam kantung (kantung amniotic). Cairan amniotic menyediakan ruang di mana embrio bisa bertumbuh dengan bebas. Cairan tersebut juga membantu melindungi embrio dari luka. Kantung amniotic kuat dan berpegas (Munasik, 2004).
Rongga yang diliputi selaput janin disebut sebagai rongga amnion. Didalam ruang ini terdapat cairan amnion (Liquor Amnii). Volume cairan amnion (air ketuban) pada kehamilan berkisar antara 1000 – 1500 ml. Cairan amnion berasal dari sekresi oleh dindinmg selaput amnion/plasenta, kemudian setelah system urinorius janin terbentuk, urine janin yang diproduksi, juga dikeluarkan kedalam rongga amnion (Guyton, 2006).

4.2.1.2  Marmut
Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa pada induk marmot yang sedang hamil ditemukan adanya vetus marmot yang berjumlah 3 dengan vetus marmot 1 mempunyai panjang badan 10 cm, panjang kaki depan 3 cm, panjang kaki belakang 4 cm, dan panjang telinga yaitu 1,6 cm, pada vetus marmot 2 mempunyai panjang badan 9 cm, panjang kaki depan 3cm, panjang kaki belakang 4cm, dan panjang telinga 1,5 cm, sedangkan pada mermut 3 mempunyai panjang tubuh 8 cm, panjang kaki depan 3cm, panjang kaki belakang 4cm, dan panjang telinga 1,5 cm. Dari ketiga vetus marmot tersebut mempunyai tipe plasenta discoid, cairan amnion berwarna kuning agak kental, tipe ovarium yaitu politoceus, dan mempunyai organ bagian luar yaitu telinga, hidung, kaki, gigi, lidah, jari , mata, mulut, kumis, anus.
Beberapa sel dari plasenta berkembang menjadi lapisan bagian luar pada selaput (chorion) yang mengelilingi embrio. Bagian dalam lapisan pada selaput (amnion) terbentuk sekitar hari ke 10 sampai hari ke 12, membentuk kantung amniotic. Kantung amniotic berisi cairan bening (cairan amniotic) dan menyebar untuk melindungi embrio yang berkembang, yang mengambang di dalamnya (Tenzer, 2003).
Penurunan berat dan panjang fetus disebabkan karena berat badan kurang mendapat perhatian yang memadai dari para peneliti selama ini, tetapi diakui bahwa adanya penurunan berat badan merupakan perwujudan dari adanya abnormalitas pertumbuhan baik pada manusia maupun pada hewan percobaan. Penurunan berat dan panjang fetus merupakan bentuk teringan dari efek agensia teratogenik dan merupakan parameter yang sensitif (Wahyu, 1990).
Pada keadaan normal embrio berkembang dalam cairan amnion yang isotonis dengan cairan tubuh. Ketidakseimbangan tekanan osmose kedua cairan itu menyebabkan perdarahan dan edema. Adanya zat asing dalam jaringan dapat menyebabkan perubahan tekanan osmose (Guyton, 2006).

4.2.1.3  Kambing
Berdasarkan hasil pengamatan bahwa pada induk kambing yang sedang hamil ditemukan adanya vetus kambing yang berjumlah 1 yang terdapat pada daerah kanan tuba fallopi dengan mempunyai panjang tubuh 17,5 cm, panjang kaki depan 7cm, panjang kaki belakang 8 cm, panjang telinga 2cm, dan panjang ekor 2 cm, organ bagian luar dari vetus kambing ini yaitu telinga, hidung, kaki, lidah, kuku, mata, ekor, dan mulut. Tipe plasenta pada kambing ini yaitu cotyledon,  terdapat cairan amnion berwarna kuning seperti urine tetapi agak kental dan vase perkembangan embrionya yaitu sudah menjadi vetus.
Berat badan adalah parameter penting untuk mengetahui pengaruh senyawa asing terhadap fetus,ditunjukkan dengan penurunan berat fetus. Laju pertumbuhan dan perkembangan fetus menentukan variasi ukuran anakan. Rerata berat anakan mencit normal pada umur kehamilan hari ke-18 adalah 1,4 gram (Scanlon, 2003).
Pada keadaan normal embrio berkembang dalam cairan amnion yang isotonis dengan cairan tubuh. Ketidakseimbangan tekanan osmose kedua cairan itu menyebabkan perdarahan dan edema. Adanya zat asing dalam jaringan dapat menyebabkan perubahan tekanan osmose (Guyton, 2006).
Plasenta dihubungkan dengan umbilikulus janin melalui tali pusar (Umbilical Cord) yang mengandung dua arteri umbilikalis dan satu vena umbilikalis. Mesoblast antara ruang amnion danm embrio menjadi padat disebut body stalk, menghubungkan embrio dengan dinding trofoblast yang kelak menjadi tali pusat (Santoso, 2006).
Walaupun embrio dilindungi dengan baik di dalam uterus, ada beberapa zat yang disebut teratogen dapat menyebabkan malformasi kongenital selama perkembangan embrio. Malformasi kongenital adalah abnormalitas atau kelainan anatomi pada waktu dilahirkan, makroskopik atau mikroskopik dan terdapat baik di permukaan ataupun di sebelah dalam badan (Sherwood, 2001).

4.2.2  Perkembangan embrio unggas
4.2.2.1  Ayam kampong
Berdasarkan hasil pengamatan bahwa pada telur ayam kampong ini setelah dioven selama 21 hari dengan suhu 37º yaitu mempunyai panjang 9,5 cm, diameter 3,85 cm, berat 35,76 g, dan keliling 15,76, terdapat putih telur yang agak encer, kuning telur yang agak encer pula. Pada telur ayam kampong dengan suhu 30º mempunyai panjang 4,5 cm, diameter 6 cm, berat 36,27 g dan keliling 12 cm, terdapat putih telur yang agak kental, kunig telur yang agak kental pula dan antara putih telur dan kuning telur tidak bercampur. Pada telur ayam kampong dengan susu 27º mempunyai panjang 4,5 cm, diameter 6,25 cm, berat 34,30 g dan keliling 12,5 cm, terdapat putih telur yang kental, kunig telur yang kental pula dan antara putih telur dan kuning telur tidak bercampur. Pada telur ayam kampong dengan susu 25º mempunyai panjang 5 cm, diameter 6,25 cm, berat 41,79 g dan keliling 12,5 cm, terdapat putih telur yang kental, kunig telur yang sangat kental dan antara putih telur dan kuning telur bercampur.
Dalam kebanyakan burung dan reptilia, telur adalah zigot yang dihasilkan melalui fertilisasi sel telur dan berfungsi memelihara dan menjaga embrio. Telur-telur reptilia dan burung diselimuti kerak pelindung, yang memiliki lubang yang sangat kecil agar hewan yang belum lahir tersebut dapat bernapas (Wahyu, 1990).
Pada prinsipnya semua jenis telur mempunyai struktur yang sama, Telur terdiri dari enam bagian yaitu: kerabang telur atau kulit luar (shell), selaput kerabang, putih telur (albumin), kuning telur (yolk), tali kuning telur (chalaza) dan sel benih (germ plasm). Masing-masing bagian memiliki fungsi khas (Munasik, 2004).
Kerabang telur berfungsi sebagai pelindung embrio dari gangguan luar yang tidak menguntungkan. Kerabang juga berfungsi melindungi putih telur dan kuning telur agar tidak keluar dan terkontaminasi dari zat-zat yang tidak diinginkan. Kerabang telur memiliki pori-pori sebagai media lalu lintas gas oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2) selama proses penetasan. Oksigen diperlukan embrio untuk proses pernapasan dan perkembangannya (Bachtiar, 2003).
Putih telur merupakan tempat penyimpanan air dan zat makanan di dalam telur yang digunakan untuk pertumbuhan embrio. Kuning telur merupakan bagian telur yang bulat bentuknya, berwarna kuning sampai jingga dan terdapat di tengah-tengah telur. Kuning telur mengandung zat lemak yang penting bagi pertumbuhan embrio. Di dalam kuning telur terdapat sel benih yang menjadi unsur utama embrio unggas. Pada bagian ujung yang tumpul dari telur terdapat rongga udara yang berguna untuk bernapas bagi embrio selama periode penetasan, yang berlangsung rata-rata 20-22 hari (Santoso, 2006).

4.2.2.2  Bebek
Berdasarkan hasil pengamatan bahwa pada telur bebek ini setelah dioven selama 21 hari dengan suhu 37º yaitu mempunyai panjang 6,2 cm, diameter 7,3 cm, berat 47,49 g, dan keliling 14,6, terdapat putih telur yang agak encer, kuning telur yang agak encer pula dan antara putih telur dan kuning telur bercampur. Pada telur bebek dengan suhu 30º mempunyai panjang 5,5 cm, diameter 7,4 cm, berat 41,28 g dan keliling 14,8 cm, terdapat putih telur yang kental, kunig telur yang kental pula dan antara putih telur dan kuning telur bercampur. Pada telur bebek dengan susu 27º ini yaitu pecah, jadi tidak bisa praktikan amati. Pada ayam kampong dengan susu 25º mempunyai panjang 5,3 cm, diameter 7,2 cm, berat 47,08 g dan keliling 14,4 cm, terdapat putih telur yang agak kental, kuning telur yang agak kental pula dan antara putih telur dan kuning telur bercampur.
Tak dipungkiri telur merupakan sebuah keajaiban besar di alam yang mengandung zat gizi sempurna untuk kehidupan embrio ternak unggas. Meskipun begitu, untuk dapat menghasilkan bakal anak, telur harus mendapatkan lingkungan yang nyaman (comfort zone) supaya embrio yang ada di dalamnya dapat berkembang dengan baik dan menetas pada waktunya. Biasanya sang induk akan mengerami telur secara alami atau bisa juga menggunakan mesin tetas (Tenzer, 2003).
Unggas yang merupakan salah satu kelompok hewan adalah sumber utama penghasil telur. Fungsi utama telur bagi unggas adalah sebagai bagian dari proses reproduksi pada unggas yang nantinya akan berkembang menjadi individu baru. Komposisi dan struktur telur sangatlah lengkap serta terdesain secara sempurna bagi mendukung perkembangan dan juga ketahanan embrio yang telah dibuahi hingga akhirnya menetas menjadi individu baru (Toelihere, 1981).
Telur terbagi menjadi beberapa komponen/bagian utama yaitu cangkang atau kulit telur, putih telur (albumin) dan juga kuning telur. Ketiga komponen utama ini terpisah oleh adanya membran pemisah diantara ketiganya sehingga ketiga komponen ini tidak saling bercampur dan sangat konsisten. Bercampurnya bagian telur terutama bagian putih dan kuning adalah salah satu penanda telah terjadinya kerusakan terhadap telur tersebut (Tenzer, 2003).

4.2.2.3  Angsa
Berdasarkan hasil pengamatan bahwa telur angsa yang praktikan amati hanya berjumlah 2 karena pencarian telur angsa yang sangat sulit. pada telur angsa ini setelah dioven selama 21 hari dengan suhu 37º yaitu menetas, dan pada telur angsa yang dioven pada suhu 30º yaitu pecah.
Unggas yang merupakan salah satu kelompok hewan adalah sumber utama penghasil telur. Fungsi utama telur bagi unggas adalah sebagai bagian dari proses reproduksi pada unggas yang nantinya akan berkembang menjadi individu baru. Komposisi dan struktur telur sangatlah lengkap serta terdesain secara sempurna bagi mendukung perkembangan dan juga ketahanan embrio yang telah dibuahi hingga akhirnya menetas menjadi individu baru (Toelihere, 1981).
Telur terbagi menjadi beberapa komponen/bagian utama yaitu cangkang atau kulit telur, putih telur (albumin) dan juga kuning telur. Ketiga komponen utama ini terpisah oleh adanya membran pemisah diantara ketiganya sehingga ketiga komponen ini tidak saling bercampur dan sangat konsisten. Bercampurnya bagian telur terutama bagian putih dan kuning adalah salah satu penanda telah terjadinya kerusakan terhadap telur tersebut (Tenzer, 2003).
Kerabang telur berfungsi sebagai pelindung embrio dari gangguan luar yang tidak menguntungkan. Kerabang juga berfungsi melindungi putih telur dan kuning telur agar tidak keluar dan terkontaminasi dari zat-zat yang tidak diinginkan. Kerabang telur memiliki pori-pori sebagai media lalu lintas gas oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2) selama proses penetasan. Oksigen diperlukan embrio untuk proses pernapasan dan perkembangannya (Bachtiar, 2003).

4.2.2.4  Ayam horn
Berdasarkan hasil pengamatan bahwa pada telur ayam horn ini setelah dioven selama 21 hari dengan suhu 37º yaitu mempunyai panjang 5 cm, diameter 7,25 cm, berat 34,80 g, dan keliling 14,5 cm, terdapat putih telur yang agak encer, kuning telur yang agak encer pula. Pada telur ayam horn dengan suhu 30º mempunyai panjang 5 cm, diameter 7,5 cm, berat 55,61 g dan keliling 15 cm, terdapat putih telur yang agak kental, kunig telur yang sangat kental dan antara putih telur dan kuning telur tidak bercampur. Pada telur ayam horn dengan susu 27º mempunyai panjang 5,3 cm, diameter 7,25 cm, berat 54,21 g dan keliling 14,5 cm, terdapat putih telur yang kental, kunig telur yang agak kental dan antara putih telur dan kuning telur tidak bercampur, dan juga terdapat rongga udara. Pada telur ayam horn dengan susu 25º mempunyai panjang 5,5 cm, diameter 7,5 cm, berat 60,62 g dan keliling 15 cm, terdapat putih telur yang sangat encer, kuning telur yang agak kental dan antara putih telur dan kuning telur tidak bercampur.
Kulit telur merupakan bagian yang sangat penting terutama sebagai pelindung dari isi telur. Kulit telur tersusun oleh bahan anorganik 95,1%, protein 3,3% dan air 1,6%. Namun komposisi ini dapat berbeda-beda pada setiap spesies unggas (Bachtiar, 2003).
Struktur dari kulit telur yaitu keras dan berpori-pori. Kerasnya struktur telur ini karena kulit telur tersusun oleh persennyawaan bahan organic terutama kalsium dalam bentuk kalsium karbonat. Dengan kerasnya kulit telur maka isi telur akan terjaga. Struktur telur yang berpori-pori ini berfugsi sebagai saluran sirkulasi atau keluar masukkanya gas oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2) selama proses penetasan. Oksigen diperlukan embrio untuk proses pernafasan dan perkembangannya. Selain itu pori-pori ini juga sangat berguna pada saat pengolahan telur asin terutama pembuatan yang menggunakan metode perendaman dengan larutan garam dan pembalutan dengan pasta garam. Garam dalam bentuk larutan akan dapat masuk dan berdifusi ke dalam isi telur ( putih dan kuning telur) melalui pori-pori kulit telur ini (Wahyu, 1990).
Pori-pori ini selain dapat sangat bermanfaat bagi perkembangan embrio namun juga dapat sangat merugikan bagi ketahanan telur itu sendiri. Melalui pori-pori telur ini berbagai mikroorganisme dapat masuk dan merusak isi telur yang kandungan zat gizinya sangat lengkap. Mikroorganisme yang dapat merusak telur seperti Salmonella, Staphylococcus dan Arizona, dan mikroorganisme yang paling sering dijumpai adalah Staphylococcus aureus. Yang perlu di waspadai adalah mikroorganisme ini dapat menghasilkan senyawa toksik yang dapat membahayakan bila telur yang tercemar ini dikonsumsi oleh manusia. Kerusakan ini akan dapat dipercepat dengan terjadinya kerusakan kulit telur seperti pecah dan retak (Toelihere, 1981).

4.3 Perbandingan
4.3.1 Perkembangan embrio mammalia
No.
Nama hewan
Tipe ovarium
Tipe plasenta
Jumlah vetus
Cairan amnion
1.
Kambing
monotokes
discoid
1
Kuning seperti urine tetapi agak kental
2.
Marmot
polytoceus
discoid
3
Kuning agak kental
3.
Tikus
polytoceus
cotiledon
11
Putih keruh licin

Berdasarkan table diatas bahwa pada ketiga hewan yang diamati memiliki perbedaan jumlah vetus, dan cairan amnion, sedangkan pada tipe ovarium kambing berbeda dengan tipe ovarium marmot dan tikus, pada tipe plasenta tikus berbeda dengan tipe plasenta kambing dan marmot.

4.3.2 Perkembangan embrio unggas
No.
Suhu
Jenis telur
Putih telur
Kuning telur
keterangan
1.
37º
Ayam kampong
Bebek
Angsa
Horn
Agak encer
Agak encer
-
Agak encer
Agak encer
Agak encer
-
Agak encer
-
Bercampur
-
-
2.
30º
Ayam kampong
Bebek
Angsa
Horn
Agak kental
Agak kental
-
Agak encer
Agak kental
Agak kental
-
Sangat kental
Tidak bercampur
Bercampur
-
Tidak bercampur
3.
27º
Ayam kampong
Bebek
Angsa
Horn
Kental
Agak encer
-
Agak Kental
Sangat kental
Agak encer
-
Agak encer
Tidak bercampur
-
-
Tidak bercampur
4.
25º
Ayam kampong
Bebek
Angsa
Horn
Kental
Agak encer
-
Sangat encer
Sangat kental
Agak encer
-
kental
Bercampur
Bercampur
-
Tidak bercampur

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pada telur ayam kampung, bebek, angsa, dan horn memiliki viskositas kuning telur dan putih telur yang berbeda – beda pada suhu yang 37º, 30º, 27º, 25º.
BAB V
PENUTUP

5.1  Kesimpulan
5.1.1  Perkembangan embrio mammalia
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa:
1.      Pada kambing mempunyai tipe ovarium monotokes, tipe plasenta discoid, jumlah aves 1 dan cairan amnion yang berwarna kuning seperti urine tetapi agak kental
2.      Pada marmot tipe ovarium polytoceus, type plasenta discoid, jumlah vetus 3, dan cairan amnion berwarba kuning agak kental
3.      Pada tikus mempunyai tipe ovarian polytoceus, type plasenta cotyledon, jumlah vetus 11, dan cairan amnion yang berwarna putih keruh dan licin.
5.1.2  Perkembangan embrio unggas
1.      Pada telur ayam kampong putih telur dan kuning telurnya dengan suhu 37º yaitu agak encer, pada suhu 30º putih telur dan kuning telur agak kental, pada suhu 27º dan 25º putih telur kental dan kuning telur sangat kental
2.      Pada telur bebek putih telur dan kuning telurnya dengan suhu 37º, 27º, dan 25º yaitu agak encer, sedangkan pada suhu 30º putih telur dan kuning telur agak kental
3.      Pada telur angsa dengan suhu 37º yaitu dapat menetas
4.      Pada telur ayam horn putih telur dan kuning telurnya dengan suhu 37º yaitu agak encer, pada suhu 30º putih telur agak encer dan kuning telur sangat kental, pada suhu 27º putih telur agak kental dan kuning telur agak encer sedangkan pada 25º putih telur sangat encer dan kuning telur kental.
5.      Pada semua telur unggas mempunyai bagian-bagian yaitu cangkang, selaput, rongga udara, putih telur, kuning telur, dan bakal embrio.

5.2  Saran
Sebelum melakukan praktikum sebaiknya kita harus tahu dulu bagaimana cara nya dan harus memeriksa segala peralatan yang akan digunakan. Terjalinnya kerja sama antar praktikan dengan asisten sangat diperlukan untuk dapat mencapai target yang dinginkan. Selain itu asisten sebaiknya mendampingi praktikan dalam melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Bachtiar, Imam. 2003. Reproduksi Seksual Karang Scleractinia: Telaah Pustaka. Biota. Vol VIII. No. 3. Hal 131 – 134. Mataram.

Guyton & Hall. 2006. Textbook of Medical Physiology. Philadelphia. Elsevier Saunders.
Munasik. 2004. Reproduksi Karang Acropora Aspera Di Pulau Panjang, Jawa Tengah: I. Gametogenesis. Journal of Marine Sciences. No 9. Vol.4 Hal : 211-216. Semarang.

Santoso, Budi. 2006. Pengaruh Kafein Terhadap Penampilan Reproduksi Dan Perkembangan Skeleton Fetus Mencit (Mus Musculus L.). Jurnal Biodiversitas. No. 2. Vol. 4. Hal. 215-220. Kalimantan selatan

Scanlon & Sanders. 2003. Essential of Anatomy and Physiology. Philadelphia : F. A. Davis Company.

Sherwood, lauralee. 2001. Fisiologi Hewan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Tenzer, Amy. 2003. Petunjuk Praktikum Struktur Hewan II. Malang. Jurusan Biologi UM.
Wahyu, Hary. 1990. Diktat Asistensi Anatomi Hewan-Zoologi. Yogyakarta. Jurusan Zoologi UGM.

Toelihere, Mozes. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Bandung : Penerbit Angkasa.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar